Genk Jenius Anak Akuntansi
Setelah bebas dari Tsanawiyah, gue masuk sekolah umum. Namanya Yayasan Ath-Thahirin. Di dalamnya ada beberapa unit sekolah, SMA, SMK, SMA Plus, SMP, STM dan TK. Gue pilih unit SMK. Karena waktu zamannya gue mau masuk sekolah lanjutan dari SMP itu sedang gencar-gencarnya penyuluhan dari Pemerintah, SMK BISA! Jadilah gue masuk SMK, karena SMK selalu dijanjikan akan langsung bekerja setelah lulus.
Di SMK, kita disiapkan untuk bisa bekerja, tidak kalah dengan anak kuliahan. Gue tertarik masuk SMK karena gue mau langsung kerja. Dari kepanjangan SMK aja sudah bisa diartikan kalau SMK itu adalah Sekolah Mencari Kerja. Gue plesetin dari arti sebenarnya Sekolah Menengah Kejuruan. Saking pengennya setelah lulus nanti langsung dapat kerja.
Dari 3 jurusan yang ditawarkan si SMK itu, gue memilih mengambil jurusan Akuntansi. Gue gak tertarik dengan 2 jurusan yang lain, Multimedia dan Administrasi Perkantoran (Sekretaris). Multimedia itu berfokus pada teknologi. Dan pada saat itu gue gak terlalu tertarik dengan teknologi. Komputer dan sebagainya. Punya hp aja pas sudah masuk SMK. Jadi sebelum itu gue norak banget. Gaptek abis. Administrasi Perkantoran atau bisa juga disebut jurusan untuk jadi Sekretaris. Gue yang notabene anak tomboy, kalau harus masuk jurusan Sekretaris, apa kata dunia? Seenggaknya itu yang ada di pikiran gue saat itu. Gue gak mau harus dandan, pake sepatu hak tinggi, dan tetk bengek ke-Sekretaris-an lainnya. Jadi menurut gue jurusan yang paling aman adalah Akuntansi. Walaupun dalam hidup gue, gue sangat tidak menyukai dunia hitung-menghitung. Satu-satunya yang gue tahu dari jurusan Akuntansi adalah gue bakal sering ngitung duit. Dan ternyata dalam kenyataannya, duit itu hanya ada dalam bayang-bayang dan kalkulator.
Intinya di sini gue mau ngenalin teman-teman gue selama di SMK. Teman dekat gue, sahabat gue. Kalo anak-anak alay bilang teman genk gue. Tapi gue lebih suka nyebut pergumpulan kita sebagai Sahabat Jenius.
Biasanya, di sekolah pada umumnya, setiap pergantian tahun, kelas kita pasti berubah dan otomatis teman kita juga pasti berubah. Tapi gak buat kelas gue. Selama tiga tahun di kelas Akuntansi, teman sebangku gue sama. Cuma kelasnya aja yang berubah. Karena kelas Akuntansi di unit gue cuma satu kelas. Beda dengan kelas Administrasi dan Multimedia yang masing masih memiliki dua sampai tiga kelas.
Di kelas, gue termasuk yang paling beruntung. Bukan karena gue
disayang guru atau karena gue pinter ngitung. Tapi karena gue duduk
sebangku dengan teman yang paling pandai Akuntansi.. Hahahahahahahaha...
Tiga
tahun selama di SMK gue duduk sama dia, namanya Nina Rubiyanti. Mukanya
bulat, pipinya chubby, gak pendek gak tinggi juga. Ya, masih tinggian
gue. Tapi dia baik banget, karena selalu ngijinin gue buat nyontek
kerjaan Akuntansinya. ^_^
Dia anak kedua dari tiga bersaudara yang kesemuanya adalah perempuan. Kakaknya juga alumni dari sekolah yang sama kayak kita. Adiknya masih SMP saat itu. Mungkin sekarang SMA.
Ada lagi, namanya Tri Sujiya Ningsih. Orangnya gembul.
Sakha Butik menyediakan busana muslim, seperti; Dress, Tunic, Gamis, Kaos, Sarimbit, Mukena Lukis dan Mukena Sarimbit.. Busana orang dewasa, remaja sampai anak-anak.. Didukung lebih dari 30 merk ternama.. Open Reseller, Info dan Pemesanan: WA 085780533548 / BBM 7CAEBC90 Happy Shoping..!!
Kamis, April 03, 2014
Kamis, Maret 27, 2014
Cernak - Mobil Mainan
Mobil
Mainan
Siang ini Ali mendapat giliran
untuk menemani Ibu berbelanja di Supermarket. Membeli sayuran untuk makan malam
nanti.
“Bu, untuk apa sih kita membeli
sayur, aku kan tidak suka makan sayur?”
“Sayur kan sehat, Sayang,” kata
Ibu.
Ali manyun. Usahanya untuk membuat
Ibu batal membeli sayur, gagal. Dan yang paling menyebalkan lagi, Ibu membeli
brokoli, sayur yang paling tidak disukai Ali. Bentuknya aneh, warnanya hijau
dan rasanya pahit. Ali tidak suka.
“Ali, ayo, kita sudah selesai..”
panggil Ibu di meja kasir.
Ali sibuk dengan mainannya,
mobil-mobilan yang dibelikan Ayah dari hasil merajuk kemarin. Ali berjalan
malas menghampiri Ibu. Tiba-tiba Ali menjadi sangat bersemangat saat melewati
deretan mainan. Pandangannya tertuju pada sebuah benda berwarna merah. Mobil
mainan yang sudah lama Ali inginkan.
“Bu, Ali mau mobilan itu,” pinta
Ali sambil menarik baju Ibunya.
“Kamu kan sudah punya banyak
mobilan, Ali,” jawab Ibu.
“Tapi yang itu belum, Bu,” bujuk
Ali pada Ibunya, tapi tampaknya tidak berhasil.
“Tidak, Ali,” bibir Ali manyun lima
senti.
Disaat Ibu sedang sibuk membayar
belanjaan, Ali kembali ke tempat mainan tadi. Pandangan matanya mengamati
sekitar. Aman. Secara sembunyi-sembunyi, Ali memasukkan mobilan yang dibungkus
plastik putih itu ke dalam saku celananya. Ali mencuri mobil mainan itu.
ZZZ
“Itu mainan siapa, Ali? Rasanya
kamu tidak punya mobil mainan seperti itu.” Tanya Ibu saat Ali sedang asyik
memainkan mobil mainan yang dia curi tadi siang.
“Mmm.. Mobil mainan Indra, Bu,” Ibu
mengangguk dan membulatkan bibirnya.
Ali menghela napas lega setelah Ibu
berlalu dari kamarnya. Ali berbohong.
ZZZ
“Tante, Ali ada?” sapa Indra, teman
sepermainan Ali sekaligus tetangga samping rumahnya.
“Ada, Indra mau ambil mobil-mobilan
yang dipinjam Ali ya?” jawab Ibu Ali.
“Mobil?” Indra bingung dengan
pertanyaan Ibu Ali.
Seingatnya dia tidak pernah
meminjamkan mobil mainannya pada Ali. Lagi pula, mobil mainan Ali lebih banyak
dibanding mobil mainan miliknya.
“Ali tidak pernah meminjam mobil
mainan Indra, Tante,” lanjutnya menjelaskan.
“Loh, Ali bilang mobil merah itu
dia pinjam dari Indra,”
Ibu beranjak menghampiri Ali di
kamarnya, masih asyik dengan mobil mainan barunya, Indra mengikuti di belakang
Ibu.
“Ali..” ucap Ibu lembut.
“Iya, Bu.” Ali bangun dari tidur santainya.
“Ibu mau tanya, mobil itu milik
siapa?” Ibu menunjuk mobil merah di genggaman Ali.
“Mobil mainan Indra, Bu, kan Ali
sudah bilang tadi,”
“Tapi Indra bilang itu bukan mobil
mainannya,”
Tiba-tiba Indra muncul di daun
pintu, Ali kaget, kebohongannya akan terbongkar jika ada Indra. Dan orang
tuanya juga akan marah besar jika mengetahui anaknya telah berbohong dan
mencuri.
“Emm..” Ali terdiam, tidak tahu
harus menjawab pertanyaan Ibu dengan kebohongan apa lagi.
“Ali..” Ibu membelai kepala Ali
penuh cinta.
“Coba jawab yang jujur, jawab
dengan ini,” Ibu menunjuk dada Ali, “Anak Ibu bukan pembohong kan?” Ali
menggeleng.
“Ali..” kata-katanya terputus, “Ali
mengambilnya dari pasar kemarin, Bu,” Ali tertunduk dalam, menyesali
perbuatannya.
“Baik, besok kita kembalikan mobil
mainan ini ke pasar, ya, dan Ali harus janji tidak akan mengulangi perbuatan
ini lagi.” Ali mengangguk lalu memeluk Ibunya erat.
“Ali minta maaf, Bu..”
ZZZ
Pesan: Jika kita menginginkan
sesuatu, cara mendapatkannya harus dengan hasil usaha sendiri. Tidak dengan
cara mengambil milik orang lain, apalagi sampai berbohong untuk memilikinya.
Jujur itu lebih baik dan menenangkan walau kadang terasa pahit.
Cerpen - Diary Jilbab
DIARY JILBAB
“Ma,
pakaikan jilbab dong.” Teriakku memanggil Mama yang ada di ruang tamu, sambil
tanganku memegang jilbab yang bertengger di kepala agar tidak lari kemana-mana.
“Sudah
Tsanawiyah masih tidak bisa pakai jilbab sendiri. Masa Mama harus pakaikan kamu
jilbab sampai 3 tahun.” Mama nyerocos di hadapanku, tangannya lihai menyematkan
peniti kuning kecil di jilbab almamater putihku.
Aku
hanya diam mendengarkan sambil berpikir. Selama ini memang aku tidak pernah
memakai jilbab segi empat, sejak di TPA alias Taman Pendidikan Al-Qur’an aku
hanya memakai bergo atau kerudung langsung pakai yang ada talinya.
Sekarang,
aku harus memakai jilbab segi empat setiap hari ke sekolah. Aku sampai tidak
berani untuk bercermin, wajahku pasti jelek sekali memakai jilbab ini. Hanya
berani melirik beberapa saat. Dan aku pastikan wajahku culun karenanya.
Dengan
bentuk wajah oval, jilbab lebar menjuntai, hiasan satu peniti kecil di
baliknya. Ooh, tidak karuan.
Hari
pertama masuk sekolah Tsanawiyah, langkahku lunglai. Tidak semangat sama
sekali. Sampai di sekolah seperti orang bingung, tidak biasa melihat seisi
sekolah yang anak perempuannya pakai penutup kepala semua. Rapih dan cantik.
Aku? Ampuuunnn….
ZZZ
Mama
dan Nenek benar-benar salah mendaftarkan aku ke sekolah Islam ini. Aku tidak
mengerti apa-apa. Cara pakai jilbab, lingkungan, apalagi pelajarannya. Apa itu
Fiqih, Al-Qur’an Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam, Bahasa Arab. Bahasa Inggris
saja aku bingungnya bukan main, bagaimana Bahasa Arab yang hurufnya sambung semua.
Mereka
memang egois, orang dewasa maunya menang sendiri. Aku yang mau sekolah, kenapa
hanya Mama dan Nenek yang diskusi. Tanpa aba-aba aku langsung di masukkan ke
sekolah ninja ini.
Sebenarnya
sebelum masuk Tsanawiyah, aku sempat diberikan pilihan oleh Nenek. Mau masuk
Tsanawiyah atau masuk pesantren di Tasikmalaya. Ya jelas saja aku memilih masuk
Tsanawiyah atau lebih tepatnya terpaksa memilih, daripada harus masuk pesantren
dan terkurung di pondok. Itu lebih parah
namanya.
Mama
dan Nenek tersenyum penuh kemenangan. Untuk anak sepertiku, yang awam dengan
jilbab dan lebih sering telanjang kepala, jilbab itu luar biasa panasnya. Dari
pagi sampai siang di sekolah, di dalam ruangan yang kipas angin pun tidak
kelihatan di mana wujudnya.
Setiap
hari kerjanya kipas-kipas di balik jilbab. Tangan kanan menulis, tangan kiri
bertugas mendinginkan tubuh. Teman yang lain santai-santai saja dengan
jilbabnya. Aku kenapa grasak-grusuk sendiri dengan jilbab ini?
ZZZ
Nenek
memang salah satu sesepuh di kampungku. Beliau guru ngaji ibu-ibu di lingkungan
rumah dan pimpinan Majlis Ta’lim. Maka dari itu, aku tidak dibiarkan masuk
sekolah sembarangan. Lewat Tsanawiyah atau sekolah Islam yang setara dengan SMP
ini, Nenek menginginkan aku bisa lebih kalem, pandai Agama dan jadi anak
perempuan baik-baik.
Mungkin
Nenek sudah terlalu muak dengan kelakuanku. Setiap hari bermain dengan anak
lelaki, pakai kaos oblong dan celana pendek, main permainan anak lelaki. Saat
anak perempuan seusiaku bermain congklak, lompat tali dan masak-masakan, aku
lebih memilih bermain kelereng, main benteng dan memanjat pohon jambu air di
pekarangan rumah Nenek.
Susah
disuruh shalat, ngaji, sampai makan saja lupa kalau sudah ketemu teman-teman.
Setiap adzan berkumandang, Nenek selalu teriak, “Annisa, shalat!” Suara Nenek
bisa terdengar dari teras rumah sampai rumah temanku. Kalau tidak pulang juga
setelah diteriaki, Nenek pasti menarik tanganku sambil mengomel memaksa pulang.
Mau
disuruh shalat atau makan, caranya sama. Begitu juga saatnya mandi. Perlu tenaga
extra untuk teriak dan menyeretku. Sampai-sampai tetanggaku pernah bilang,
“Rebus aja punya anak begitu mah.” Sadis sekali tuh tetangga.
Hanya
Nenek yang memperlakukan aku macam itu. Mama tidak pernah menarikku untuk
pulang saat aku bermain. Karena Mama sibuk bekerja, bahkan terkadang tidak
pulang. Bekerja sebagai penjahit kasur lantai membuat Mama tidak sempat
mengurusku. Bukan karena penghasilannya yang besar lantas dituntut untuk fokus
pada pekerjaan. Tapi justru karena penghasilan yang tidak seberapa, membuat
Mama harus sering lembur mengumpulkan keping recehan.
Hampir
24 jam aku bersama Nenek. Makan masakan Nenek, tinggal di rumah Nenek, jajan
dari uang Nenek, sekolah juga yang bayar Nenek. Semua Nenek. Penghasilan Mama
tidak cukup untuk menyekolahkanku, hanya bisa menutupi bagian-bagian kecil dari
kehidupan kami.
ZZZ
Sejak
masuk Tsanawiyah yang mengharuskan aku naik kendaraan umum untuk sampai ke
sekolah, aku jadi malas bermain. Lelah di perjalanan. Sampai rumah, makan dan
langsung tidur siang. Aku anggap Nenek berhasil membuatku tidak bermain lagi,
kecuali kalau temanku datang ke rumah untuk mengajakku bermain. Kalau tidak
begitu, aku lebih baik nonton tv atau baca novel.
Ada
lagi perubahanku sejak bergaul dengan teman-temanku di sekolah. Aku jadi senang
memperhatikan orang-orang yang menggunakan jilbab lebar. Singgah secuil rasa
iri di hati. Dia cantik sekali menggunakan jilbab yang lebarnya hingga melebihi
pinggang. Aku ingin.
“Dirubah,
Dik, sedikit-sedikit,” kata Kak Wulan menyemangatiku.
“Nanti
kalau sudah biasa, pasti nyaman,” lanjutnya saat aku curhat padanya.
“Lagian,
masih betah aja pake jilbab sarang tahu begitu!” Cetus Kak Wahab. Bibirku maju
lima centi.
Jilbabku
memang seperti saringan tahu kalau diperhatikan. Tipis. Bayangan rambutku sampai
terlihat saat memakainya. Apalagi sejak bisa gaya pakai jilbab anak sekarang,
yang dililit-lilit ke belakang kepala, makin berantakan saja.
“Tapi
aku tidak bisa pakai jilbab seperti Kakak,” ujarku lemas.
“Nanti
kita belajar ya. Kalau menurut Kakak, jilbab syar’i itu lebih mudah di pakai
daripada jilbab-jilbab zaman sekarang. Yang harus dililit-lilit, dikasih
aksesoris ini-itu. Jadi terkesan tabarruj atau malah memakai jilbab hanya untuk
mencari perhatian dan kepopuleran. Jatuhnya tidak dianjurkan oleh agama.” Aku
manggut-manggut mendengarkan.
“Tapi,
Kak.” Suaraku masih terdengar ragu.
“Aku
tidak punya jilbab lebar. Tidak punya uang untuk belinya.”
Kak
Wulan tersenyum.
ZZZ
“Ini
untuk kamu, Nisa,” Kak Erli, isteri Kak Wahab menghampiriku dengan membawa tumpukan
baju dan jilbab.
“Kak
Wulan bilang, kamu belum punya jilbab lebar. Ini Kakak ada beberapa, tidak baru
sih tapi setidaknya masih layak untuk dipakai,” lanjutnya.
“Terima
kasih, Kak.”
Aku
menerimanya dengan tangan gemetar dan menahan tangis. Aku memang belum mampu
membeli jilbab-jilbab ini. Jilbab yang aku kenakan untuk ke sekolah saja, milik
Mama. Baju muslim, aku juga tidak memilikinya. Mungkin Kak Erli ingin melihatku
seperti muslimah lain, memakai gamis dan jilbab lebar. Karena selama pertemuan
kami, aku selalu menggunakan seragam sekolah atau kaos dan celana panjang.
Dalam
hidup, aku tidak pernah memikirkan untuk membeli baju. Kalaupun ada, aku segera
menepisnya. Aku lebih memilih untuk memikirkan hal lain dan menjalani hidup
dengan apa yang aku punya. Aku juga pernah iri dengan apa yang teman-temanku
miliki. Sering. Saat sepatu sekolahku berlubang bagian alasnya dan tidak
langsung bisa membeli gantinya. Hatiku menangis.
ZZZ
Mata-mata
itu seakan ingin menerkamku. Memandangiku sejak masuk gerbang tadi. Apa ada
yang salah? Mungkin. Aku juga merasa. Tapi bukan sebuah kesalahan. Hanya
sedikit berbeda dari biasanya.
Mata
itu masih menakutkan. Tapi kali ini diiringi senyuman.
“Annisaaa..”
Guru komputerku yang juga berjilbab lebar menghampiriku dengan senyuman
mengembang indah. Aku ikut tersenyum ragu.
“Kamu
cantik sekali. Lebih shalehah,” katanya di hadapanku.
“Biasa
aja, Bu. Sama seperti kemarin-kemarin.”
Senyumnya
masih kudapati di situ, di lengkungan bibir itu. Beliau juga salah satu yang
menyemangatiku untuk berubah.
“Pakai
jilbab itu memang panas. Panas sekali. Keringat mengalir di badan dan sangat
tidak nyaman. Itu untuk yang tidak ikhlas menutup auratnya. Berjilbab hanya
untuk mentaati peraturan sekolah, atau ikut-ikut tren. Tapi untuk yang ihklas
hatinya karena tahu kalau jilbab itu adalah kewajiban yang diperintahkan Allah
langsung, yang berjilbab itu akan merasa dengan jilbab dia akan terlindungi
dari sengat matahari, dari hujan, dari gangguan orang-orang yang berniat jahat
dan terasa sejuk, bukan hanya di badan tapi juga di hati.” Begitu nasihatnya
dulu.
Hari
pertamaku menggunakan jilbab lebar ini, berhasil membuatku berlinangan air mata
lagi karena teringat pesan guruku. Entah, aku merasa lebih ringan dengan hidup
ini. Apa mungkin karena ku tanggalkan kebiasaanku yang lama dan merubahnya jadi
lebih syar’i? Yang pasti sekarang aku bahagia dengan hidayah dari hasil mengais
ini.
“Akhirnya..”
Kak Erli sepertinya sangat lega melihatku dengan jilbab putih pemberiannya
tempo hari.
Sebagai
orang yang berkecimpung di dunia dakwah, perubahanku menjadi kebanggaan
tersendiri untuknya. Bisa merubah anak tomboi ini menjadi perempuan yang lebih
anggun dengan juntaian jilbabnya.
Dan
yang paling membuatku melayang adalah senyuman dari orang-orang tercinta di
rumah, Mama dan Nenek. Hanya senyum. Itu sudah mampu membuatku lebih kuat untuk
bertahan dan istiqomah dengan hidayah ini. Insya Allah..
ZZZ
Rabu, Februari 19, 2014
Cerpen - Ada Cinta Di Setiap Tetesnya
Ada
Cinta Disetiap Tetesnya
Dia masih terpaku memandang
bangunan bambu berukuran 3x3 di hadapannya. Sudah reot dan termakan usia.
Seperti dirinya yang tak lagi gagah saat memaku gubuk itu dahulu.
“Bu'e kasur'e
tulung selehno mejo, ketok'e wis arep udan.1” Perintahnya
pada sang isteri dengan logat Jawa yang kental.
Sekarang memang sedang musim
pancaroba, kadang panas kadang hujan. Tidak menentu. Setidakmenentu perjalanan
hidupnya. Pancaroba juga ikut andil menentukan keluarganya hari ini bisa makan
atau tidak, dagangannya laku atau tidak. Terlalu sering hujan akan
mengakibatkan buah-buahnya cepat busuk, terlalu panas pun akan sangat
melelahkan kalau harus berkeliling kampung Asem dan kampung sebelah.
Si Mbah bukannya tidak tahu syukur.
Bukannya tidak mensyukuri apa yang Allah SWT. beri padanya dan keluarga. Tapi
keadaan dan fisiknya yang sudah mulai tidak lagi mendukung.
Namanya Mbah Slamet, usianya hampir
menyentuh 80 tahun. Tinggal di gubuk kecil bersama isteri tercinta, anak, menantu
dan satu orang cucu. Terdengar mustahil. Tapi itu yang dirasakannya setiap
hari, setiap detiknya.
Mbah Slamet masih memandangnya
nanar. Gubuk bambu yang sudah habis sedikit demi sedikit bagian bawahnya karena
di gerus air bah setiap kali hujan deras. Gubuk itu berada tepat di pinggiran
sawah dan terpinggirkan dari masyarakat. Bangunan yang sangat tidak layak
disebut sebagai rumah tempat menaungi tubuh tuanya.
Di kelilingi oleh sawah dan aliran
kali, tidak ada jaminan sedikitpun untuk berbesar hati baginya. Merasa nyaman
dan selamat seperti namanya, tak ada yang mau berjanji soal itu. Rumahnya
menjorok ke bawah, sedikit ke atas ada jalanan kampung beraspal. Sudah bisa
dipastikan, setiap hujan datang, gubuk tua itu yang jadi penampung airnya.
“Pak, piye
iki wis usum udan, gubuk'e mesti kerendem meneh?2,”
ujar Mbok Yatmi pelan.
“Kasihan cucu kita,”
Tubuh gemuk Mbok Yatmi terpaku di
bale kayu depan rumah. Memandangi orang yang hilir mudik dengan
kendaraan-kendaraan mentereng. Ia masih menyimpan mimpi untuk bisa seperti mereka,
menunggangi besi-besi itu.
Memory kedua orang tua itu
mengawang ke masa lalu, masa-masa jaya keluarga mereka. Dimana mereka memiliki
rumah yang layak, walau halamannya hanya jalanan kecil yang cukup untuk satu
orang lewati. Beberapa motor, usaha jahit yang lumayan maju dan tubuh yang
masih gagah untuk bekerja lebih keras.
Lamunan itu segera membuyar dengan
suara petir yang menyambar pohon sukun besar di samping rumah. Mbok Yatmi
melonjak kaget.
“Astaghfirullah…” ucapnya sambil
mengelus dada.
“Pasti banjir lagi ini, Pak,”
lanjutnya berlalu masuk rumah.
Mbah Slamet bergegas menyusul sang
isteri menaikan barang-barang yang mudah basah ke tempat yang lebih tinggi.
Kasur kapuk yang sudah menipis, lemari kain yang sudah terlihat compang-camping
disana-sini, memindahkan dan menutup gerobak dagangannya dengan terpal biru
lusuh.
ZZZ
Hujan seharusnya jadi pelebur yang
kerontang, bukan malah menimbulkan was-was di hati. Bagi keluarga ini, hujan
deras sama dengan banjir. Jika banjir sama artinya tidak tidur atau begadang semalaman,
lalu dilanjutkan kerja bakti membersihkan sampah yang tersisa dari aliran kali.
Melihat sekeliling, air sudah mulai
meninggi menenggelamkan sebagian sawah, kali dan rumah Mbah Slamet. Tidak ada
yang bisa dilakukan selain memandanginya hingga air itu bosan merendam mereka.
“Bahagia kan tidak harus
bergelimangan harta,” kata Mbah Slamet tempo hari.
Bahagia bisa diraih dengan banyak
hal, tidak hanya dengan materi semata. Yang terpenting tidak hilangnya
kehangatan keluarga dan syukur pada yang memberikan kehidupan.
Kadang terbersit di benaknya,
mengapa hanya dia dan keluarga kecilnya yang mengalami keadaan seperti ini?
Tinggal di gubuk reot di pinggiran sawah dan kali, di dataran bawah dan bersahabat
dengan air bah. Di kelilingi rumah-rumah bertingkat, yang satupun bukan
miliknya. Kemana miliknya dulu yang ada di genggaman?
Memang semua yang berasal dari
Allah dan tergantung kehendak Allah kapan Dia akan mengambil milik-Nya lagi.
Manusia hanya dititipkan, tiada hak untuk menahan-nahan yang bukan miliknya. Manusia
hanya diwajibkan bersyukur apapun yang Allah beri.
Pikiran kufur itu datang sebelum si
remaja tanggung muncul. Sore itu Alan datang dengan beberapa orang berpakaian
rapih, memakai jaket hitam dan ransel besar di punggung. Dua orang lelaki dan
seorang perempuan berjilbab. Bertandang ke rumah Mbah Slamet yang baru saja
pulang dari berdagang buah-buahan milik tetangga.
“Ini yang namanya Mbah Slamet,
Pak,” Alan memperkenalkan Mbah Slamet dan keluarganya pada seorang bapak
berjenggot.
“Saya Ilham, Mbah, dari Organisasi
Rakyat Sejahtera,” sambil menyalami Mbah Slamet.
“Alan sudah cerita banyak tentang
Mbah, dan maksud kami datang kesini untuk survey tempat tinggal Mbah.”
“Survey untuk apa?” Tanya Mbah
Slamet masih tampak bingung, rumahnya jarang kedatangan tamu apalagi
orang-orang yang dandanannya rapih begini.
Obrolan itu masih berlanjut hingga
2 jam, diselingi pisang goreng hangat dari sisa pisang yang belum laku terjual.
Keluarga Mbah Slamet berkumpul mendengarkan seksama apa yang dibicarakan bapak
berjenggot itu. Ruangan 3x3 meter itu makin sempit terasa.
“Kami akan memberikan modal usaha,
serta rumah tinggal yang layak untuk Mbah dan keluarga.” Ujar perempuan
berjilbab.
Mbah Slamet saling bertatap muka
dengan anggota kelurganya yang lain. Masih tidak percaya dengan yang ia dengar.
Seperti masih ada petir sisa hujan tadi yang menyambarnya.
“Mbah bisa berjualan buah milik sendiri,
bahkan bisa mempunyai kebun sendiri,” kata bapak yang satunya.
“Mempunyai rumah di dataran yang
lebih tinggi, dan tidak kebanjiran seperti kemarin-kemarin lagi.”
Mbok Yatmi sesenggukkan di bahu
suaminya. Beliau tidak merasa bermimpi apapun semalam, kejatuhan sukun di
samping rumah pun tidak, tiba-tiba Allah kirim Malaikatnya ke gubuk mereka.
“Alhamdulillah, terima kasih..” Si
Mbah hanya mampu bersyukur dan mengucapkan terima kasih, tubuhnya lemas dan
jantungnya masih bergetar.
Allah akan menambah nikmat-Nya
jikalau kita bersyukur, Allah menepati janji-Nya. Memang Allah tiada akan
ingkar, tidak seperti manusia yang sering kufur.
Mimpi-mimpi itu kembali membanjiri
ingatan. Kesempatan untuk hidup yang lebih layak, berjejer di antara
rumah-rumah kokoh itu. Tidak lagi dihampiri air bah.
Hidup terkadang seperti hujan,
walau datang bergerombol, tapi ada cinta di setiap tetesnya. Cinta dari
penciptanya. Tetesan yang bukan hanya bisa berubah jadi banjir yang
menenggelamkan, tapi bisa juga menghidupkan. Karena kehidupan diciptakan
berbeda-beda, ada yang gersang, ada juga yang gembur. Yang boleh sama hanya
syukurnya.
ZZZ
Catatan
kaki:
1
Bu, kasur naikan ke atas meja, sebentar lagi hujan.
2
Pak,
bagaimana ini, sudah musin hujan. Gubuk ini pasti tergenang lagi.
(Terbit dalam Buku Antologi Bersama "Kisah Terbunuhnya Penari Jaipong" BacaTulis.Com)
Langganan:
Komentar (Atom)